Keajaiban Do’a

Syaikh Ali Musthafa Thantawi mengisahkan:

Dahulu, aku menjabat sebagai hakim di wilayah Syam.
Disuatu senja, aku dan beberapa kawan pergi menikmati sejuknya malam. Namun tiba-tiba aku merasakan pernafasanku begitu sesak.
Akupun pamit kepada kawan-kawan untuk pulang. Akan tetapi mereka meminta supaya aku tetap ikut bersama mereka.
Aku sampaikan bahwa aku tidak bisa menemani mereka lagi. Aku ingin pulang dan mencari hawa yang baik.
Aku menyusuri gelapnya malam yang baru saja dihantarkan senja.
Tiba-tiba aku mendengar tangisan seorang wanita dari balik bukit kecil.
Suara tangis itu terdengar begitu keras,
Aku mendekat ke arah dimana suara itu berasal.
Ternyata kudapati seorang wanita yang sedang menangis dengan wajah yang memendam kesedihan yang mendalam. Dalam tangisnya ia tak henti-hentinya berdo’a.
Lalu akupun bertanya, “Saudariku. .. apa yang membuatmu menangis .?
Wanita itu menjawab:
“Suamiku adalah orang yang sangat keras dan suka menzhalimiku, dia mengusirku dari rumah dan merampas anak-anak dariku. Dia juga bersumpah untuk tidak akan melihatku selama-lamanya. Sementara aku tak punya siapa-siapa. Tak ada tempat untukku kembali.

Aku bertanya lagi “Mengapa engkau tidak mengadukannya kepada Hakim. .?

Wanita itu menjawab: “Bagaimana mungkin wanita biasa sepertiku bisa sampai kepada seorang hakim.?”

Sambil menangis Syaikh melanjutkan kisahnya,

“Wanita itu berkata seperti itu, padahal dia tidak menyadari bagaimana Allah menghantarkan seorang hakim untuknya (Maksudnya beliau).

Subhanallah. .. siapa yang menuntun hakim tersebut keluar ditengah gelapnya malam, untuk kemudian berdiri didepan wanita malang dan menanyakan sendiri apa keperluannya?

Doa apa yang telah dipanjatkan wanita malang itu, sehingga dengan cepat dijawab oleh Allah dengan cara seperti ini.. ?

Wahai engkau yang merasa dirundung duka dan mengira bahwa dunia begitu gelap hingga tak lagi dapat mengantarkanmu pada jalan keluar..

Angkatlah tanganmu ke langit dan jangan bertanya, “Bagaimana masalahku akan akan diselesaikan.?”

Apakah engkau masih akan merasa bahwa hidup itu sempit..?
Jangan lagi. .. khusyu’lah dengan penuh tunduk kepada-Nya. Dialah yang Maha Mendengar langkah seekor semut yang berjalan di tengah kegelapan malam.

Yakinlah. .. bahwa disana ada bahagia yang menantimu setelah kesabaran yang panjang.
Tidaklah Allah mengujimu dengan suatu ujian melainkan disana ada kebaikan untukmu, meskipun engkau menduga sebaliknya. .
Lapangkan dadamu.

Kalau bukan karena ujian, maka Yusuf tetap menjadi seorang anak yang manja dipangkuan ayahnya.

Namun setelah melewati ujian, ia kemudian menjadi penguasa Mesir.

Apakah engkau masih merasa bahwa hidup itu sempit..?

Yakinlah. ..

Bahwa disana ada bahagia yang menantimu setelah kesabaran yang panjang.
Ada keajaiban yang menantimu untuk membuatmu lupa betapa pahitnya ujian hidup.”

(Rawaa’i At-Thantawi)
___________

Madinah 22 -02-1437 H

ACT El-Gharantaly

Sumber: https://web.facebook.com/aan.c.thalib

Iklan
Dipublikasi di Uncategorized | Meninggalkan komentar

Ibu Maafkan Anakmu

Untukmu duhai bunga yang tak pernah layu…Untukmu yang telah mengusap air mataku…

Untukmu yang telah membasuh kotoranku…

Yang telah menyuapkan makanan dan minum dengan tangannya kemulutku…

Untukmu yang telah menjanjikan hari bahagia sebagai ketenangan bagiku…
Betapa letihnya engkau wahai ibu…

Kalau engkau kehilangan ibumu, bisakah engkau akan mendapatkan penggantinya?
Jika engkau kehilangan ibumu, kehilangan ayahmu, apa yang akan engkau lakukan?

Kemanakah engkau akan mendapatkan penggantinya?

ﺭِﺿَﺎ ﺍَﻟﻠَّﻪِ ﻓِﻲ ﺭِﺿَﺎ ﺍَﻟْﻮَﺍﻟِﺪَﻳْﻦِ, ﻭَﺳَﺨَﻂُ ﺍَﻟﻠَّﻪِ ﻓِﻲ ﺳَﺨَﻂِ ﺍَﻟْﻮَﺍﻟِﺪَﻳْﻦِ ‎
“Keridhoan Allah tergantung kepada keridhoan orang tua dan kemurkaan Allah tergantung kepada kemurkaan orang tua.” (HR. Tirmidzi.)
ﻭَﻗَﻀَﻰٰ ﺭَﺑُّﻚَ ﺃَﻟَّﺎ ﺗَﻌْﺒُﺪُﻭﺍ ﺇِﻟَّﺎ ﺇِﻳَّﺎﻩُ ﻭَﺑِﺎﻟْﻮَﺍﻟِﺪَﻳْﻦِ ﺇِﺣْﺴَﺎﻧًﺎ ۚ ﺇِﻣَّﺎ ﻳَﺒْﻠُﻐَﻦَّ ﻋِﻨْﺪَﻙَ ﺍﻟْﻜِﺒَﺮَ ﺃَﺣَﺪُﻫُﻤَﺎ ﺃَﻭْ ﻛِﻠَﺎﻫُﻤَﺎ ﻓَﻠَﺎ ﺗَﻘُﻞْ ﻟَﻬُﻤَﺎ ﺃُﻑٍّ ﻭَﻟَﺎ ﺗَﻨْﻬَﺮْﻫُﻤَﺎ ﻭَﻗُﻞْ ﻟَﻬُﻤَﺎ ﻗَﻮْﻟًﺎ ﻛَﺮِﻳﻤًﺎ
“Dan Rabb-mu telah memerintahkan supaya kamu jangan menyembah selain Dia, dan hendaklah kamu berbuat baik kepada ibu bapakmu dengan sebaik-baiknya. Jika salah seorang di antara keduanya atau kedua-duanya sampai berumur lanjut dalam pemeliharaanmu, maka sekali-kali janganlah kamu mengatakan kepada keduanya perkataan “ah”, dan janganlah kamu membentak mereka. Dan ucapkanlah kepada mereka perkataan yang mulia.”

(QS. Al-Isra`:23)
Ya Umma, Ya Umma, Wahai Ibu… Maafkan anakmu,
Wahai Ibu…

Pintu mana lagi yang bisa terbuka untukku?

Jika seandainya, pintumu sudah tertutup untukku?
Maafkan anakmu..
Wahai Ibu…

Siapa lagi yang dapat mendekatkan diri-Nya kepadaku?

Jika seandainya bukan engkau?
Wahai Ibu…

Siapa lagi yang dapat menyayangiku?

Jika seandainya, engkau telah murka kepadaku?
Silahkanlah anak-anak yang durhaka berbuat sekehendaknya…

Maka, dia tidak akan masuk surga…
Dan Silahkanlah anak-anak yang berbakti berbuat sesukanya…

Dan dia tidak akan masuk neraka…
Sesungguhnya Allah menyegerakan azab,, Apabila seorang hamba durhaka kepada orangtuanya…

Agar semakin segera kesengsaraan bagi dirinya…
Dan sesungguhnya Allah menambahkan umur seorang hamba,, Apabila bebakti kepada orangtuanya…

Agar ia semakin baik dan semakin berbakti…
Cobalah,,,

siapa diantara kita yang mencium tangan ibunya?!

Siapa diantara kita yang mencium kepala ayah dan ibunya?!

Siapa diantara kita yang berbicara dengan ayah dan ibunya dengan kalimat lemah lembut dan santun?!
Ibu, maafkan anakmu,,,maafkan anakmu…

Dipublikasi di Uncategorized | Meninggalkan komentar

Manusia Memang Begitu Kawan

Barulah tadi malam, dalam suasana hangat seusai makan malam, ia tertegun melihat tawa riang putra-putrinya di ruang keluarga, bercanda ria tanpa beban. Sejenak ia tertunduk muram, ia sadar bahwa nafkah yang ia berikan kepada mereka selama ini tidak halal.Uang panas itu mengalir lancar ke dalam rekeningnya. Banyak proposal proyek-proyek yang tidak sah, ia kabulkan. Sejenak ia termenung, menyesal dan mengikrarkan dalam hati untuk meninggalkan semua yang telah ia perbuat.

Namun lihatlah hari ini, ia tak kuasa untuk tidak membubuhkan tanda tangannya di atas lembaran-lembaran itu. Ikrar yang baru berumur semalam itu, ia hempaskan tanpa ragu.

Manusia memang begitu, Kawan.

Barulah kemarin ia duduk menangis di ruangan kamarnya. Batinnya merana atas dosa-dosa yang telah ia lakoni. Ia tercerahkan setelah mendengarkan nasehat seorang ustadz muda dalam sebuah kajian. Ia terpukau dengan penjelasan ustadz itu, dan merasa betapa sempitnya dunia ini baginya. Kemudian ia membulatkan azam (tekad) dalam hati untuk meninggalkan dosa-dosa itu. Namun lihatlah hari ini, ia kembali kepada kehidupannya yang lama. Azam yang telah ia bulatkan itupun kini hancur berkeping-keping tak bersisa.

Manusia memang begitu, Kawan.

Barulah beberapa hari yang lalu ia menyesal telah melalaikan banyak waktu sehingga banyak tugas yang terbengkalai. Ia merasa begitu banyak target-target hidup yang tak terwujud karena tidak menghargai waktu. Dan ia sadar bahwa kehidupan SMA nya bukanlah untuk hura-hura. Lalu kemudian ia berjanji akan lebih memanfaatkan waktu, merubah secara total pola hidupnya yang tak beraturan. Namun lihatlah hari ini, ia kembali hanyut tenggelam dalam kelalaian yang sama. Penyesalan itu telah menguap tanpa sisa.

Manusia memang begitu, Kawan.

Barulah beberapa malam yang lalu, di tengah senyapnya malam, ia mendapati istrinya tertidur di ruang tamu. Ia pandangi lekat-lekat wajah sendu istrinya, wajah yang lelah menanti kedatangan suami tercinta. Seketika itu air matanya meleleh. Ada bongkahan pahit yang tersangkut di kerongkongannya. Sudah sebulan ini ia menjalin hubungan terlarang dengan asisten pribadinya. Malam demi malam ia habiskan bersama wanita yang tidak halal baginya. Dan di malam itu, ia mengambil keputusan, palu itu sudah ia ketuk di dalam hati, keputusan itu sudah mantap, ia tidak akan berselingkuh lagi. Namun lihatlah hari ini, ia kembali ke kubangan lama. Keputusan mantap itu telah ia injak-injak dengan kakinya sendiri.

Manusia memang begitu, Kawan.

Barulah seminggu yang lalu ia menyaksikan sendiri pemakaman sahabatnya, yang meninggal muda karena kanker paru-paru akibat rokok. Dan di saat itu pula, di atas pusara sahabatnya, ia menancapkan tekad dalam hati untuk tidak merokok selamanya. Selamanya. Janji sampai mati. Namun lihatlah hari ini, ia kembali tergoda untuk menghisap pembunuh 9 cm itu. Menghancurkan dengan tangannya sendiri bangunan tekad yang telah ia bangun dengan kokoh.

Manusia memang begitu, Kawan.

Barulah sebulan yang lalu ia menjadi saksi bangkrutnya perusahaan yang telah ia mulai dari nol. Perusahaan yang telah berbilang tahun itu bangkrut di depan matanya sendiri. Bangkrut karena bisnis kotor yang ia lakukan. Dan di saat itu pula ia kapok dan menyesal, tapi apalah guna penyesalan. Ia pun berteriak lantang dalam hati untuk tidak mengulangi kesalahan yang telah ia perbuat. Teriakan yang sangat lantang, yang mampu mengguncang alam bawah sadarnya. Namun lihatlah hari ini, berharap segera menuai untung, bisnis kotor itu kembai ia geluti.

Manusia memang begitu, Kawan.

Barulah setahun yang lalu ia menyusun rancangan besar apa yang akan ia lakukan apabila diterima di Universitas idamannya. Merangkai mozaik mimpi dan harapan. Bersiap menyongsong janji-janji perubahan. Namun lihatlah hari ini, setelah mozaik itu sempurna, setelah cita-cita itu terwujud, dengan tangannya sendiri ia cabik-cabik mozaik itu.

Manusia memang begitu, Kawan.

~Goresan pena: A.Rinanda~
Catatan:
Bila tekad untuk hijrah telah kuat, kuatkan azammu, tutup semua pintu yang akan membawamu ke masa lalu. Katakan pada diri, kuingin terlahir sebagai manusia yang baru.

Selamat berhijrah….
______________

Madinah 13-01-1437 H

Editor: ACT El-Gharantaly
Sumber: https://web.facebook.com/aan.c.thalib/posts/1113348232011124

Dipublikasi di Uncategorized | Meninggalkan komentar

Nikmat Adalah Ujian

Akhii Ukhtii
Masih ingatkah dengan kisah Nabi Sulaiman?
Seorang Nabi dan Raja yang sangat hebat dan menakjubkan
Allah memberinya kerajaan yang tidak diberikan kepada siapapun sesudahnya
Ia memahami bahasa binatang
Bangsa jin tunduk bahkan menjadi bala tentaranya
Angin juga Allah tundukkan buatnya
Dan berbagai nikmat yang lainnya yang tak dapat dihitung lagi
Ketika ia mendengar ratu semut berbicara kepada rakyatnya, sebagaimana Allah ceritakan di dalam surah An Naml ayat 18, beliau tersenyum mendengarkan ucapannya dan langsung ingat kepada Allah sang Pencipta Yang Maha Kuasa, Yang telah memberinya nikmat tersebut seraya berdoa yang artinya
“Ya Tuhanku berilah aku ilham untuk tetap mensyukuri nikmat Mu yang telah Engkau anugerahkan kepadaku dan kepada dua orang ibu bapakku dan untuk mengerjakan amal saleh yang Engkau ridhai; dan masukkanlah aku dengan rahmat-Mu ke dalam golongan hamba-hamba-Mu yang saleh.”
Nikmat Allah begitu Besar dan tanpa pertolonganNya tidak mungkin ia dapat mensyukurinya.
Nabi sulaimana tidak lupa daratan dengan kehebatannya, Ia sama sekali tidak congkak dan sombong, bahkan ia merendahkan dirinya depan Allah.
Dan ketika ia meminta agar singgasana ratu balqis dihadirkan ke istananya, sebelum matanya berkedip, singgasana itu telah hadir
Dari jarak yang sangat jauh, Ribuan kilometer antara Yaman Yerusallem
Dia sadar, bahwa yang terjadi adalah karunia Allah
Dan nikmat itu adalah bentuk ujian dariNya
Tidak seperti sebagian yang memandang ujian hanya yang bentuknya musibah
Maka Nabi Sulaiman langsung berkata
هَذَا مِنْ فَضْلِ رَبِّي لِيَبْلُوَنِي أَأَشْكُرُ أَمْ أَكْفُرُ ]
“Ini termasuk karunia Rabbku untuk mencoba aku apakah aku bersyukur atau mengingkari (akan nikmat-Nya) (An Naml 40).
Maka bila kau memperoleh nikmat, kesuksesan atau apa saja, sehingga kau merasa hebat
Ketahuilah bahwa dirimu sedang dalam ujian
Berapa banyak yang tidak lulus ketika diuji dengan kenikmatan dunia
Karena dunia membuatmu jauh dan lupa dari sang Pemberi
Semoga engkau bukan salah satunya
Ditulis oleh Ustadz Dr. Syafiq Riza Basalamah, MA
BBG Al-Ilmu

Dipublikasi di Uncategorized | Meninggalkan komentar

Janganlah Engkau Bersedih, Ketika Engkau Telah Mati..

Inilah di antara tulisan terbaik Syekh Ali Thanthawi Mesir Rahimahullah:
Pada saat engkau mati, janganlah kau bersedih. Jangan pedulikan jasadmu yang sudah mulai layu, karena kaum muslimin akan mengurus jasadmu.
Mereka akan melucuti pakaianmu, memandikanmu dan mengkafanimu lalu membawamu ke tempatmu yang baru, kuburan.
Akan ada banyak orang yang mengantarkan jenazahmu bahkan mereka akan meninggalkan pekerjaannya untuk ikut menguburkanmu.
Barang-barangmu akan dikemas; kunci-kuncimu, kitab, koper, sepatu dan pakaianmu. Jika keluargamu setuju barang-barang itu akan disedekahkan agar bermanfaat untukmu.
Yakinlah; dunia dan alam semesta tidak akan bersedih dengan kepergianmu.
Ekonomi akan tetap berlangsung!
Posisi pekerjaanmu akan diisi orang lain.
Hartamu menjadi harta halal bagi ahli warismu.
Sedangkan kamu yang akan dihisab dan diperhitungkan dari hartamu!
Kesedihan atasmu ada 3:
~ Orang yg mengenalmu sekilas akan mengatakan, kasihan.
~ Kawan-kawanmu akan bersedih beberapa jam atau beberapa hari lalu mereka kembali seperti sediakala dan tertawa tawa!
~ Di rumah ada kesedihan yg mendalam! Keluargamu akan bersedih seminggu dua minggu, sebulan dua bulan, dan mungkin hingga setahun??
Selanjutnya mereka meletakkanmu dalam arsip kenangan!
Demikianlah “Kisahmu telah berakhir di tengah-tengah manusia”.
Dan kisahmu yang sesungguhnya baru dimulai, Akhirat!!
Telah musnah kemuliaan, harta, kesehatan, dan anak. Telah engkau tinggalkan rumah, istana dan istri tercinta. Kini hidup yg sesungguhnya telah dimulai.
Pertanyaannya adalah:
Apa persiapanmu untuk kuburmu dan akhiratmu??
Hakikat ini memerlukan perenungan.
Usahakan dengan sungguh-sungguh;
Menjalankan kewajiban kewajiban, hal-hal yg disunnahkan, sedekah rahasia, merahasiakan amal shalih, shalat malam,
Semoga saja engkau selamat.
Andai engkau mengingatkan manusia dengan tulisan ini insyaAllah pengaruhnya akan engkau temui dalam timbangan kebaikanmu pada hari Kiamat. “Berilah peringatan, karena peringatan itu bermanfaat bagi orang orang mukmin.”
Subhanallah….
Semoga kelak Allah mewafatkan kita dalam keadaan husnul khatimah. Semoga bermanfaat..
Disalin dari grup Himpunan Alumni Pesantren Islam Al Irsyad Tengaran via Yusuf Firdaus
Sumber: http://www.kisahislam.net/2015/10/08/janganlah-engkau-bersedih-ketika-engkau-telah-mati/

Dipublikasi di Uncategorized | Meninggalkan komentar

Delapan Pintu Surga

Ada delapan pintu surga. Ada empat pintu yang disebut dalam satu hadits. Sisanya dilihat dari hadits-hadits lainnya. Yaitu: (1) Pintu Shalat, (2) Pintu Sedekah, (3) Pintu Jihad, (4) Pintu Ar-Rayyan, (5) Pintu Haji, (6) Pintu Al-Ayman, (7) Pintu Al-Kazhimina Al-Ghaizha wa Al-Afina ‘an An-Naas. Pintu sisanya adalah Pintu Dzikir, Pintu Ridha, atau Pintu Ilmu.

Tidak Ada yang Semisal Surga
Allah Ta’ala berfirman,
فَلَا تَعْلَمُ نَفْسٌ مَا أُخْفِيَ لَهُمْ مِنْ قُرَّةِ أَعْيُنٍ جَزَاءً بِمَا كَانُوا يَعْمَلُونَ
“Tak seorang pun mengetahui berbagai nikmat yang menanti, yang indah dipandang sebagai balasan bagi mereka, atas apa yang mereka kerjakan.” (QS. As-Sajdah: 17)
Dalam hadits disebutkan,
عَنْ أَبِى هُرَيْرَةَ – رضى الله عنه – عَنِ النَّبِىِّ – صلى الله عليه وسلم – « يَقُولُ اللَّهُ تَعَالَى أَعْدَدْتُ لِعِبَادِى الصَّالِحِينَ مَا لاَ عَيْنٌ رَأَتْ ، وَلاَ أُذُنٌ سَمِعَتْ ، وَلاَ خَطَرَ عَلَى قَلْبِ بَشَرٍ ، ذُخْرًا ، بَلْهَ مَا أُطْلِعْتُمْ عَلَيْهِ » . ثُمَّ قَرَأَ ( فَلاَ تَعْلَمُ نَفْسٌ مَا أُخْفِىَ لَهُمْ مِنْ قُرَّةِ أَعْيُنٍ جَزَاءً بِمَا كَانُوا يَعْمَلُونَ )
Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, ia berkata, “Allah Ta’ala berfirman: Aku sediakan bagi hamba-Ku yang shalih berbagai kenikmatan yang tidak pernah dilihat oleh mata, tidak pernah didengar oleh telinga dan tidak pernah terbetik dalam benak manusia. Kalau kalian mau, bacalah, ‘Tak seorang pun mengetahui berbagai nikmat yang menanti, yang indah dipandang sebagai balasan bagi mereka, atas apa yang mereka kerjakan.’ (QS. As-Sajdah: 17)
Balasan ini diberikan bagi orang yang beramal sembunyi-sembunyi. Allah rahasiakan pula balasan baginya dan dinampakkan dengan senyatanya pada hari kiamat. Al-Hasan Al-Bashri rahimahullah berkata,
أَخْفَى قَوْمٌ عَمَلَهُمْ فَأَخْفَى اللهُ لَهُمْ مَا لَمْ تَرَ عَيْنٌ ، وَلَمْ يَخْطُرْ عَلَى قَلْبِ بَشَرٍ
“Suatu kaum ada yang menyembunyikan amalan mereka. Allah pun membalasnya dengan menyembunyikan balasan untuk mereka yang tak pernah mereka pandang sebelumnya dan tak pernah terbetik dalam benak.” (HR. Ibnu Abi Hatim, dinukil dari Tafsir Al-Qur’an Al-‘Azhim, 6: 145)

Delapan Pintu Surga yang Akan Dimasuki
Di surga ada delapan pintu surga. Salah satu pintu dinamakan Ar-Rayyan dan pintu ini khusus bagi orang yang berpuasa. Dalam hadits disebutkan,
عَنْ سَهْلِ بْنِ سَعْدٍ – رضى الله عنه – عَنِ النَّبِىِّ – صلى الله عليه وسلم – قَالَ « فِى الْجَنَّةِ ثَمَانِيَةُ أَبْوَابٍ ، فِيهَا بَابٌ يُسَمَّى الرَّيَّانَ لاَ يَدْخُلُهُ إِلاَّ الصَّائِمُونَ »
Dari Sahl bin Sa’ad radhiyallahu ‘anhu, dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, ia berkata, “Surga memiliki delapan buah pintu. Di antara pintu tersebut ada yang dinamakan pintu Ar Rayyan yang hanya dimasuki oleh orang-orang yang berpuasa.” (HR. Bukhari no. 3257)
Pintu lainnya adalah pintu untuk orang-orang yang rajin mengerjakan shalat, pintu untuk yang rajin bersedekah, pintu untuk para mujahid.
Dari Abu Hurairah, ia berkata bahwa beliau pernah mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallambersabda,
مَنْ أَنْفَقَ زَوْجَيْنِ فِى سَبِيلِ اللَّهِ نُودِىَ مِنْ أَبْوَابِ الْجَنَّةِ يَا عَبْدَ اللَّهِ ، هَذَا خَيْرٌ . فَمَنْ كَانَ مِنْ أَهْلِ الصَّلاَةِ دُعِىَ مِنْ بَابِ الصَّلاَةِ ، وَمَنْ كَانَ مِنْ أَهْلِ الْجِهَادِ دُعِىَ مِنْ بَابِ الْجِهَادِ ، وَمَنْ كَانَ مِنْ أَهْلِ الصِّيَامِ دُعِىَ مِنْ بَابِ الرَّيَّانِ ، وَمَنْ كَانَ مِنْ أَهْلِ الصَّدَقَةِ دُعِىَ مِنْ بَابِ الصَّدَقَةِ
“Barangsiapa yang berinfak dengan sepasang hartanya di jalan Allah maka ia akan dipanggil dari pintu-pintu surga, ‘Hai hamba Allah, inilah kebaikan.’ Maka orang yang termasuk golongan ahli shalat maka ia akan dipanggil dari pintu shalat. Orang yang termasuk golongan ahli jihad akan dipanggil dari pintu jihad. Orang yang termasuk golongan ahli puasa akan dipanggil dari pintu Ar-Rayyan. Dan orang yang termasuk golongan ahli sedekah akan dipanggil dari pintu sedekah.”
فَقَالَ أَبُو بَكْرٍ – رضى الله عنه – بِأَبِى أَنْتَ وَأُمِّى يَا رَسُولَ اللَّهِ ، مَا عَلَى مَنْ دُعِىَ مِنْ تِلْكَ الأَبْوَابِ مِنْ ضَرُورَةٍ ، فَهَلْ يُدْعَى أَحَدٌ مِنْ تِلْكَ الأَبْوَابِ كُلِّهَا قَالَ « نَعَمْ . وَأَرْجُو أَنْ تَكُونَ مِنْهُمْ »
Ketika mendengar hadits ini Abu Bakar pun bertanya, “Ayah dan ibuku sebagai penebus Anda wahai Rasulullah, kesulitan apa lagi yang perlu dikhawatirkan oleh orang yang dipanggil dari pintu-pintu itu. Mungkinkah ada orang yang dipanggil dari semua pintu tersebut?”
Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pun menjawab, “Iya ada. Dan aku berharap kamu termasuk golongan mereka.” (HR. Bukhari no. 1897, 3666 dan Muslim no. 1027)
Al-Qadhi menukil ucapan Al-Harawi ketika menerangkan makna ‘sepasang hartanya’: Ada yang berpendapat bahwa yang dimaksud dengan ‘sepasang harta’ adalah dua ekor kuda, dua orang budak, atau dua ekor unta. Ibnu ‘Arafah menyatakan segala sesuatu yang memiliki pasangan disebut dengan zauj.
Sedangkan yang dimaksud dengan berinfak di jalan Allah dalam hadits ini mencakup berinfak untuk segala bentuk amal kebaikan. Ada juga ulama yang menafsirkan, yang dimaksud adalah khusus jihad saja. Namun memberlakukan secara umum seperti pendapat pertama itu lebih bagus. Demikian ucapan dari Al-Qadhi ‘Iyadh. (Syarh Shahih Muslim, 6: 106)
Sedangkan pintu kelima adalah pintu Al-Ayman. Dari Abu Hurairah, dalam hadits tentang syafaat Nabishallallahu ‘alaihi wa sallam dikatakan,
يَا مُحَمَّدُ أَدْخِلِ الْجَنَّةَ مِنْ أُمَّتِكَ مَنْ لاَ حِسَابَ عَلَيْهِ مِنَ الْبَابِ الأَيْمَنِ مِنْ أَبْوَابِ الْجَنَّةِ وَهُمْ شُرَكَاءُ النَّاسِ فِيمَا سِوَى ذَلِكَ مِنَ الأَبْوَابِ
“Wahai Muhammad, suruhlah umatmu (yaitu) orang-orang yang tidak dihisab untuk masuk ke dalam surga melalui pintu Al-Ayman yang merupakan di antara pintu-pintu surga. Sedangkan pintu-pintu yang lain adalah pintu surga bagi semua orang.” (HR. Bukhari no. 3340, 3361, 4712 dan Muslim no. 194)
Nama pintu keenam adalah Al-Kazhimina Al-Ghaizha wa Al-Afina ‘an An-Naas (mudah menahan amarah dan memaafkan orang lain) terdapat dalam hadits dari Rawh bin ‘Ubadah, dari Asy’ats, dari Al-Hasan Al-Bashri secara mursal,
إِنَّ للهِ بَاباً فِي الجَنَّةِ لاَ يَدْخُلُهُ إِلاَّ مَنْ عَفَا عَنْ مَظْلَمَةٍ
“Sesungguhnya Allah memiliki sebuah pintu di surga, tidaklah yang masuk melaluinya kecuali orang-orang yang memaafkan kezaliman.” (Diriwayatkan oleh Ahmad. Lihat Fath Al-Bari, 7: 28).
Imam Nawawi rahimahullah berkata, “Al-Qadhi berkata, pintu-pintu surga lainnya disebutkan dalam hadits lain yaitu pintu taubat, pintu Al-Kazhimina Al-Ghaizha wa Al-Afina ‘an An-Naas, Pintu Ridha. Inilah jadinya ada tujuh pintu yang ada dalam berbagai hadits. Sedangkan 70.000 orang yang masuk surga tanpa hisab<http://rumaysho.com/aqidah/70-000-orang-yang-masuk-surga-tanpa-siksa-5424.html&gt; akan masuk melalui pintu Al-Ayman. Itulah pintu kedelapan.” (Syarh Shahih Muslim, 7: 106-107)
Ibnu Hajar rahimahullah menyatakan, “Dalam hadits disebutkan ada empat pintu surga. Di awal-awal bab jihad sudah diterangkan pula bahwa pintu surga itu ada delapan. Rukun Islam yang tersisa adalah haji, tentu ada pintu khusus untuk orang yang berhaji. Itulah pintu kelima. Adapun tiga pintu lainnya, ada di situ pintu Al-Kazhimina Al-Ghaizha wa Al-Afina ‘an An-Naas terdapat dalam riwayat Imam Ahmad, dari Rawh bin ‘Ubadah dari Asy’ats, dari Al-Hasan Al-Bashri secara mursal, “Sesungguhnya Allah memiliki sebuah pintu di surga, tidaklah yang masuk melaluinya kecuali orang-orang yang memaafkan kezaliman.”
Ada juga pintu Al-Ayman (pintu ketujuh), yaitu pintu orang yang bertawakkal pada Allah yang masuk dalam surga tanpa hisab dan tanpa siksa. Adapun pintu kedelapan adalah Pintu Dzikir sebagaimana yang diisyaratkan dalam riwayat Tirmidzi. Bisa jadi pula adalah Pintu Ilmu. Wallahu a’lam.” (Fath Al-Bari, 7: 28)

Abu Bakar Dipanggil dari Delapan Pintu Surga
Abu Bakar adalah orang yang memiliki berbagai bentuk amal shalih dan ketaatan. Hal itu terbukti sebagaimana disebutkan dalam hadits berikut.
قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَنْ أَصْبَحَ مِنْكُمْ الْيَوْمَ صَائِمًا قَالَ أَبُو بَكْرٍ أَنَا قَالَ فَمَنْ تَبِعَ مِنْكُمْ الْيَوْمَ جَنَازَةً قَالَ أَبُو بَكْرٍ أَنَا قَالَ فَمَنْ أَطْعَمَ مِنْكُمْ الْيَوْمَ مِسْكِينًا قَالَ أَبُو بَكْرٍ أَنَا قَالَ فَمَنْ عَادَ مِنْكُمْ الْيَوْمَ مَرِيضًا قَالَ أَبُو بَكْرٍ أَنَا فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَا اجْتَمَعْنَ فِي امْرِئٍ إِلَّا دَخَلَ الْجَنَّةَ
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bertanya (kepada para sahabat), “Siapakah di antara kalian yang pada hari ini berpuasa?” Abu Bakar berkata, “Saya.”
Beliau bertanya lagi, “Siapakah di antara kalian yang hari ini sudah mengiringi jenazah?” Maka Abu Bakar berkata, “Saya.”
Beliau kembali bertanya, “Siapakah di antara kalian yang hari ini memberi makan orang miskin?” Maka Abu Bakar mengatakan, “Saya.”
Lalu beliau bertanya lagi, “Siapakah di antara kalian yang hari ini sudah mengunjungi orang sakit.” Abu Bakar kembali mengatakan, “Saya.”
Maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pun bersabda, “Tidaklah ciri-ciri itu terkumpul pada diri seseorang melainkan dia pasti akan masuk surga.” (HR. Muslim no. 1028).
Abu Bakar Al-Muzani berkomentar tentang sahabat Abu Bakar Ash-Shiddiq radhiyallahu’anhu,
مَا فَاقَ أَبُوْ بَكْرٍ – رَضِيَ اللهُ عَنْهُ – أَصْحَابَ رَسُوْلُ اللهِ – صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ – بِصَوْمٍ وَلاَ صَلاَةٍ ، وَلَكِنْ بِشَيْءٍ كَانَ فِي قَلْبِهِ ، قَالَ : الَّذِي كَانَ فِي قَلْبِهِ الحُبُّ للهِ – عَزَّ وَجَلَّ – ، وَالنَّصِيْحَةُ فِي خَلْقِهِ
“Tidaklah Abu Bakar itu melampaui para sahabat Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam (semata-mata) karena (banyaknya) mengerjakan puasa atau shalat, akan tetapi karena iman yang bersemayam di dalam hatinya.”
Mengomentari ucapan Al-Muzani tersebut, Ibnu ‘Aliyah mengatakan, “Sesuatu yang bersemayam di dalam hatinya adalah rasa cinta kepada Allah ‘azza wa jalla dan sikap nasihat (ingin terus memberi kebaikan) terhadap (sesama).” (Jami’ Al-’Ulum wa Al-Hikam oleh Ibnu Rajab, 1: 225).
Semoga bermanfaat, semoga kita dimudahkan untuk memasuki pintu-pintu surga yang ada. Wallahu waliyyut taufiq.

Naskah Khutbah Jumat 29 Syawal 1436 H di Masjid At-Tauhid, Bibal, Panggang, Gunungkidul
Selesai disusun 11: 13 AM, Jum’at, 29 Syawal 1436 H di Darush Sholihin, Gunungkidul<http://darushsholihin.com/&gt;
Penulis: Muhammad Abduh Tuasikal<http://rumaysho.com/about-me&gt;
Sumber: http://rumaysho.com/aqidah/delapan-pintu-surga-11605.html

Dipublikasi di Uncategorized | Meninggalkan komentar

Islam Adalah Agama Yang Damai, Maka Tunjukkanlah Kepada Mereka

Assalamu’alaikum Warrahmatullahi Wabarrakatuh

Shalawat dan salam selalu kita haturkan kepada junjungan kita Nabi Muhammad Salallahu Alaihi Wassallam beserta keluarganya dan sahabatnya.

Di Negara kita ini yang katanya mayoritasnya beragama Islam nyatanya belum mampu menerapkan hukum Islam, Mengapa?

Rupanya banyak orang Islam di negara ini yang masih jauh dari menjalankan sunnah-sunnah Rasulullah Salallahu Alaihi Wassallam. Kita terlalu sibuk mengurusi sebuah isu yang dibuat untuk merusak kerukunan perpecahan dalam beragama. Saat ada isu seperti belum lama ini, pembakaran mushollah di daerah Tolikara, saya anggap itu salah satu perbuatan biadab, tidak terpuji entah dari golongan atau keyakinan apapun dia. Tapi, bisakah kita tetap tenang dalam menghadapi isu tersebut. Okey mungkin akan ada yang bilang, anda tinggal di Jakarta. masjid dan mushollah berdiri di mana saja tanpa ada yang melarang. Tapi, sadarkah anda saat mengucapkan perkataan tersebut. Berapa banyak masjid di Jakarta yang terisi penuh saat Sholat-sholat wajib?

Saudaraku yang di Papua, aku percaya ALLOH akan menolong kalian semua di sana. ALLOH akan memberikan kekuatan kepada kalian, yang tetap percaya dan yakin bahwa janji ALLOH benar adanya. Islam adalah agama yang damai. Mengapa kita tidak mencontoh seperti yang Rasullullah lakukan terhadap Umar Ibn Khatab, ketika Rasullullah meminta kepada ALLOH untuk memberikan hidayah kepada Abu Jahl ataupun Umar untuk mengkokohkan Islam. Maka ALLOH pilihkan Umar Ibn Khatab untuk mengkokohkan Islam dan kalian bisa membaca sejarah tersebut.

Lalu apa hubungannya dengan pembakaran Mushollah di Papua? saudaraku memang tidak ada hubungan dan kaitannya. tapi, marilah kita ambil pelajarannya.

Dari Abi Hurairah ra berkata, bersabda Rasulullah saw: Tiga do’a yang diijabah, tidak ada keraguan padanya: Do’a orang yang dizhalim, do’a orang yang sedang bepergian, dan do’a orangtua terhadap anaknya. (HR. Ahmad, Tirmidzi dan Ibnu Majah)

Orang Yang dizhalimi

Do’a orang yang dizhalim itu diangkat di atas mega dan Allah membukakan baginya pintu-pintu langit, dan Dia berfirman, Demi kemulian-Ku Aku akan menolongmu walau sampai akhir jaman.

Bahkan ada hadits yang menerangkan bahwa tidak ada hijab antara Allah dengan orang yang dizhalimi ketika ia berdo’a kepada Allah. Dan do’a orang yang dizhalimi itu tetap akan diijabah meskipun ia orang yang durhaka. Oleh karena itu, berhati-hatilah terhadap perbuatan zhalim, termasuk kepada istri dan anak, karena do’a mereka besar kemungkinan akan diijabah oleh Allah.

Maka saudaraku di Papua, minta lah kepada ALLOH, untuk memberikan hidayah serta petunjuk untuk orang yang men-zahalimi kalian. Semoga mereka suatu hari nanti akan menjadi seseorang yang bisa mengkokohkan Islam seperti Umar Ibn Khatab.

“Do’a para hamba akan senantiasa dikabulkan, selama tidak berdo’a yang isinya dosa atau memutus tali silaturrahim, selama dia tidak terburu-buru.” Para sahabat bertanya, “Ya Rasulullah, apa yang dimaksud terburu-buru dalam berdo’a?” Beliau bersabda, “Orang yang berdo’a ini berkata, “Saya telah berdo’a, Saya telah berdo’a, dan belum pernah dikabulkan.” Akhirnya dia putus asa dan meninggalkan do’a.(HR. Muslim dan Abu Daud)

Dan Alloh berfirman dalam surat Al-Maidah: 13

Maka Maafkanlah Mereka dan Lapangkanlah dada sesungguhnya ALLOH menyukai orang-orang yang berbuat baik.

Karena, kita seorang muslim dan kita berkeyakinan Islam itu agama yang damai, tidak seperti yang diberitakan oleh media-media yang hanya ingin menghinakan Islam. Maka bersabarlah dalam berdo’a untuk kebaikan orang lain, pemimpin-pemimpin kita dan maafkanlah apa yang mereka perbuat. Jika hukum di dunia ini menurut kalian tidak adil, bagi kalian yang percaya akan ada hari di mana pada hari itu tidak ada penolong selain amal kebaikan kalian. Percayalah saat hari itu datang, maka kitalah orang-orang yang memiliki senyum lebar saat ALLOH membagikan kitab amalan kita. Dunia hanyalah sebuah bayangan, yang jika kalian kejar maka dunia itu akan menjauh pergi dan berlari. tapi, jika kalian membelakanginya, niscaya bayangan tersebut akan mengikuti.

“Orang hebat bukanlah orang yang selalu menang dalam pertarungan. Orang hebat adalah orang yang bisa mengendalikan diri ketika marah”. (HR. Bukhari dan Muslim)

Marilah saudaraku untuk fokus memperbaiki diri kita, keimanan kita, mengikuti sunnah-sunnah Rasulullah. Islam adalah agama yang damai, maka tunjukanlah kepada mereka bagaimana Islam bersikap dan berbuat serta jangan mudah terprovokasi. Sabar itu tiada batas, karena batasan sabar adalah surga.

Dipublikasi di Uncategorized | Meninggalkan komentar